Cianjur - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) akan mengawal proses penyelidikan kasus terbakarnya Pasar Cibeber yang meludeskan sebanyak 146 kios dan los dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar, Selasa (24/4/2012) malam lalu.
Pasalnya, kuat dugaan ada sinyalemen terbakarnya pasar tersebut akibat unsur kesengajaan berdasarkan hasil konfirmasi Ikappi dari para pedagang.
Ketua Umum DPP Ikappi Abdullah Mansuri mengaku pada Rabu (25/4/2012) pihaknya sengaja terjun ke lokasi kejadian untuk mengetahui informasi yang diperoleh dari para pedagang mengenai kronologis kebakaran.
Hasilnya, sebelum pasar terbakar, ternyata diketahui terjadi sejumlah rentetan kejadian tak lazim yang dialami para pedagang. Kasusnya tak jauh berbeda dengan kebakaran-kebakaran pasar tradisonal lainnya yang terjadi selama 2012 ini.
“Dari pengakuan sejumlah pedagang, beberapa hari sebelum terjadi kebakaran, mereka sempat kedatangan 'tamu' yang menginformasikan bahwa akan ada relokasi. Selama ini, para pedagang tidak pernah mengetahui atau paling tidak ada sosialisasi mengenai relokasi itu. Tahu-tahu, pasar terbakar. Yang perlu digarisbawahi juga, titik sumber api itu diduga berasal dari kios penjual sembako. Dari analisa para pedagang, sangat tidak mungkin kobaran api menyebar sedemikian cepat jika berasal dari kios sembako. Dari konfirmasi pengakuan pedagang itu, kami menyimpulkan sementara bahwa ada sesuatu dibalik terjadinya kebakaran ini, dengan kata lain, kuat dugaan ada unsur kesengajaan,” terang Abdullah saat ditemui di Cianjur, Kamis (26/4/2012).
Dugaan tersebut memang cukup beralasan. Terlebih, kata Abdullah, saat ini pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sebesar hampir Rp450 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional di seluruh Indonesia.
“Salah satunya, kami mendapati ada proposal revitalisasi Pasar Cibeber dari Kabupaten Cianjur di Kementerian Perdagangan. Makanya kami perlu terjun ke lapangan untuk mencari informasi mengenai penyebab terjadinya kebakaran ini. Apakah kejadian ini berkaitan erat dengan rencana revitalisasi pasar tradisional atau tidak. Karena itu kami perlu mengawal penyelidikan dari aparat kepolisian untuk mengetahui penyebab pastinya,” tegas Abdullah.
Abdullah mengaku akan segera membentuk tim untuk mendalami lagi kasus tersebut. Sebab, katanya, berdasarkan investigasi dan advokasi pihaknya, hampir 89% kejadian kebakaran pasar tradisional karena unsur kesengajaan.
“Jika melihat dan mendengar pengakuan para pedagang, ada kemungkinan Pasar Cibeber juga terindikasi kuat karena unsur kesengajaan. Kami juga menyayangkan dengan pemerintah daerah yang mengeluarkan statemen bahwa kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Darimana mereka bisa menyimpulkannya, karena yang berwenang melakukan penyelidikan adalah aparat kepolisian, bukan pemerintah daerah,” sebutnya.[jul]