Studi Banding Bupati Cianjur ke Surabaya Disoal
Cianjur - Sejumlah elemen masyarakat Cianjur menyoal kegiatan studi banding Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh bersama hampir 100 orang rombongan sejumlah pejabat eselon II dan III setingkat kepala organisasi perangkat daerah (OPD) hingga camat ke Kota Surabaya, Jawa Timur.
Pasalnya, kegiatan studi banding yang menggunakan uang negara (APBD) itu dinilai sangat kontradiktif dengan kondisi masyarakat Kabupaten Cianjur saat ini.
Pengamat hukum dan politik di Cianjur Yudi Junadi mengungkapkan kegiatan studi banding bupati dan rombongan aparatur pemerintahan di lingkungan Pemkab Cianjur ke Surabaya selama hampir sepekan sejak Sabtu (26/5/2012) hingga Kamis (31/5/2012) nanti mengindikasikan kurangnya empati penguasa terhadap masyarakat Cianjur dengan indikator kemiskinan yang makin meningkat dan meluas.
Menurut Yudi, studi banding itu juga tidak efektif dan lebih condong pemborosan keuangan negara. “Padahal, Mendagri pun telah menyatakan bahwa studi banding yang menggunakan anggaran negara harus dikurangi,” tegas Yudi kepada INILAH.COM, Senin (28/5/2012).
Menurut Yudi, berdasarkan hasil temuan badan pemeriksa keuangan (BPK), kegiatan studi banding di berbagai daerah sangat potensial koruptif. Artinya, kegiatan studi banding bupati dan aparatur pemerintahan di Kabupaten Cianjur dinilai sangat kontradiktif dengan temuan BPK.
“Dinilai potensial koruptif lantaran nilai kerugian negara akibat studi banding itu cukup besar. Selain itu, studi banding hanya sekadar cover up, sebab pada kenyataanya hanya kegiatan pelesiran belaka. Sekalipun studi banding merupakan kebijakan bupati namun anggaran yang digunakan berasal dari uang rakyat dan negara, sehingga harus jelas, terperinci dan transparan pertanggungjawabannya. Kami minta agar perlu adanya audit investigasi dan hasilnya dipublikasikan kepada masyarakat,” tegas Yudi.
Sekertaris Daerah Kabupaten Cianjur Bachrudin Ali mengatakan kepergian bupati bersama rombongan ke Surabaya dalam rangka melihat langsung tata pemeliharaan kebersihan kota. Sebab, Surabaya bisa dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam hal pengelolaan dan pemeliharaan kebersihan kota.
“Ada kemungkinan kunjungan ke Surabaya ini terkait Adipura karena memang Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang terbaik dalam pemeliharaan kebersihan kota,” kata Bachrudin kepada wartawan, Senin (28/5/2012).
Bachrudin mengaku tak tahu menahu mengenai besaran anggaran yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Bachrudin pun mengaku kunjungan ke Surabaya ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. “Saya kurang tahu persis besarannya berapa. Kegiatan ini memang sudah terencana dari jauh-jauh hari,” tegasnya.[jul]


