Mei 2012

Studi Banding Bupati Cianjur ke Surabaya Disoal


Cianjur - Sejumlah elemen masyarakat Cianjur menyoal kegiatan studi banding Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh bersama hampir 100 orang rombongan sejumlah pejabat eselon II dan III setingkat kepala organisasi perangkat daerah (OPD) hingga camat ke Kota Surabaya, Jawa Timur.

Pasalnya, kegiatan studi banding yang menggunakan uang negara (APBD) itu dinilai sangat kontradiktif dengan kondisi masyarakat Kabupaten Cianjur saat ini.

Pengamat hukum dan politik di Cianjur Yudi Junadi mengungkapkan kegiatan studi banding bupati dan rombongan aparatur pemerintahan di lingkungan Pemkab Cianjur ke Surabaya selama hampir sepekan sejak Sabtu (26/5/2012) hingga Kamis (31/5/2012) nanti mengindikasikan kurangnya empati penguasa terhadap masyarakat Cianjur dengan indikator kemiskinan yang makin meningkat dan meluas.

Menurut Yudi, studi banding itu juga tidak efektif dan lebih condong pemborosan keuangan negara. “Padahal, Mendagri pun telah menyatakan bahwa studi banding yang menggunakan anggaran negara harus dikurangi,” tegas Yudi kepada INILAH.COM, Senin (28/5/2012).

Menurut Yudi, berdasarkan hasil temuan badan pemeriksa keuangan (BPK), kegiatan studi banding di berbagai daerah sangat potensial koruptif. Artinya, kegiatan studi banding bupati dan aparatur pemerintahan di Kabupaten Cianjur dinilai sangat kontradiktif dengan temuan BPK.

“Dinilai potensial koruptif lantaran nilai kerugian negara akibat studi banding itu cukup besar. Selain itu, studi banding hanya sekadar cover up, sebab pada kenyataanya hanya kegiatan pelesiran belaka. Sekalipun studi banding merupakan kebijakan bupati namun anggaran yang digunakan berasal dari uang rakyat dan negara, sehingga harus jelas, terperinci dan transparan pertanggungjawabannya. Kami minta agar perlu adanya audit investigasi dan hasilnya dipublikasikan kepada masyarakat,” tegas Yudi.

Sekertaris Daerah Kabupaten Cianjur Bachrudin Ali mengatakan kepergian bupati bersama rombongan ke Surabaya dalam rangka melihat langsung tata pemeliharaan kebersihan kota. Sebab, Surabaya bisa dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam hal pengelolaan dan pemeliharaan kebersihan kota.

“Ada kemungkinan kunjungan ke Surabaya ini terkait Adipura karena memang Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang terbaik dalam pemeliharaan kebersihan kota,” kata Bachrudin kepada wartawan, Senin (28/5/2012).

Bachrudin mengaku tak tahu menahu mengenai besaran anggaran yang digunakan untuk kegiatan tersebut. Bachrudin pun mengaku kunjungan ke Surabaya ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. “Saya kurang tahu persis besarannya berapa. Kegiatan ini memang sudah terencana dari jauh-jauh hari,” tegasnya.[jul]

Gerakan Sehari Tanpa Makan Nasi Minim Sambutan

CIANJUR (Suara Karya): Surat edaran Gubernur Jawa Barat tentang Gerakan One Day No Rice (sehari tanpa makan nasi) Nomor 60 Tahun 2010 yang ditindaklanjuti surat Nomor 501/ 34/Binprod tanggal 15 Juli 2011 tentang hal serupa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, tampaknya kurang mendapat perhatian dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

Dari 28 OPD, baru satu OPD, yaitu Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, yang melaksanakan tindak lanjut surat edaran Gubernur Jabar tentang gerakan sehari tanpa makan nasi. Padahal surat edaran gubernur itu terbit sudah hampir setahun.

"Kami melaksanakan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari surat edaran gubernur dan surat edaran bupati dalam upaya program percepatan keanekaragaman konsumsi dan ketahanan pangan," kata Drs H Sudradjat Laksana kepada Suara Karya, Rabu (23/5).

Gerakan sehari tanpa makan nasi di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dilaksanakan setiap hari Rabu. "Setiap hari Rabu, semua pegawai tidak makan nasi, penggantinya makan singkong atau makan mi," katanya.

Menurutnya, sebagaimana dirasakannya sehari dalam waktu seminggu tidak makan nasi, tubuh tetap fit, tidak ada gangguan kesehatan. Sebab, masih tetap makan, hanya saja yang dimakan bukan nasi, melainkan singkong atau makanan lainnya.

"Ya, karena dibiasakan, akhirnya sudah terbiasa, terasa enak dalam sehari tidak makan nasi. Setiap hari Rabu, saya tidak hanya di kantor tidak makan nasi. Di rumah pun bersama keluarga, saya tidak makan nasi. Penggantinya, makan singkong atau mi dan makanan lainnya," ujarnya.

Sebagaimana disaksikan Suara Karya, Rabu, kemarin, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Sudradjat Laksana, bersama para pegawainya menyantap mi rebus sebagai pengganti nasi. (Man Suparman)

Elpiji 3 Kg Langka, Harga di Cianjur Selatan Tembus Rp25.000


CIANJUR, (PRLM).- Kelangkaan elpiji 3 kg masih terjadi di Kabupaten Cianjur. Bahkan, harga elpiji di sejumlah kecamatan di Cianjur Selatan, seperti Kecamatan Kadungpandak, Tanggeung, Sindangbarang, Cijati, dan Cidaun menembus harga Rp 25.000,00 per tabung. Kondisi tersebut dikeluhkan warga Cianjur Selatan.

"Sudah hamir tiga pekan, tabung elpiji bersubsidi yang 3 kg susah dicari. Kalaupun ada pengecer bisa mematok harga hampir dua kali lipat dari harga normal atau sekitar Rp 25.000,00," ujar Rahmat (42), warga Sindangbarang, Minggu (27/5/12).

Rahmat menuturkan sebagian warga terpaksa beralih ke kayu bakar meski harga kayu juga akhirnya mahal dari harga biasanya. Selain itu, akibat mahalnya harga elpiji, sejumlah warung makan pun terpaksa menaikan harga satu porsi makanannya.

"Kami ini bingung dengan pemeritah. Dulu katanya suruh beralih menggunakan elpiji dari minyak tanah. Minyak tanah lama kelamaan tidak dijual. Kalaupun ada harga sudah tidak bersubsidi. Sekarang sudah beralih bahkan masyarakat sudah bergantung pada elpiji malah susah dicari. Kalau seperti ini yang susah ya masyarakat juga," tuturnya.

Kondisi barang yang langka, kata Rahmat, dimanfaatkan oleh sejumlah agen yang menjual dengan harga tinggi di luar kesepakatan. "Saya pernah tanya ke pengecer katanya harga memang sudah naik dari agen. Padahal harga dari agen kan sudah ditentukan oleh Pertamina dan tidak boleh menaikan seenaknya.Ini kan barang bersubsidi. Artinya banyak juga agen yang nakal," katanya.

Untuk Mengatasi kelangkaan gas elpiji 3 kg, Pertamina melakukan upaya penambahan stok dengan melakukan extra droping sebanyak 62 alokasi di Kabupaten Cianjur. Salah seorang pemilik agen gas elpiji 3 kg, Lies Boy mengatakan, extra droping di 62 titik tersebut dibagi kepada 20 agen yang ada di Cianjur.

Namun, kata Lies, pembagian tersebut tidak merata jumlahnya. Dirinya mengatakan, pihaknya hanya melakukan extra dropping di empat titik, diantaranya di Kecamatan Kadupandak, Cijati dan dua di Kecamatan Cidaun.

"Agen lain enggan untuk melakukan ekstra dropping ke Selatan. Kami mengetahui harga di Cianjur Selatan paling tinggi makanya kami memilih melakukan ektra dropping di Cianjur Selatan. Dari jumlah dua alokasi dropping atau sekitar 1120 tabung yang kami punya dari Pertamina pun masih kurang," ucapnya. (A-186/A-108)***

Cianjur kekurangan sekolah anak berkebutuhan khusus


Cianjur (ANTARA News) - Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membutuhkan tambahan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan bagi mereka.

Ketua Sekolah Luar Biasa (SLB) Gugus Delapan Cianjur Tata Nursetyawan, Jumat, mengatakan, jumlah SLB di Kabupaten Cianjur hanya delapan yang tersebar di beberapa kecamatan seperti di kecamatan Cianjur, Karangtengah, Cipanas dan Kecamatan Sukanagara.

Namun jumlah itu belum ideal karena seharusnya setiap kecamatan ada SLB.

Dia berharap, pihak pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat memperhatikan keberadaan SLB karena anak berkebutuhan khusus memerlukan pendidikan, khususnya jenjang pendidikan dasar.

Hal ini dibuktikan dengan kenyataan jika dibangun SLB baru, jumlah siswa baru selalu ada, bahkan keberadaan sekolah tersebut belum mencukupi untuk menampung siswa yang belajar di SLB.

"Jumlah anak berkebutuhan khusus kian bertambah, hal ini bisa dibuktikan dengan jika dibangun SLB baru, jumlah siswa baru selalu bertambah setiap tahun," tambahnya.

Dia menandaskan, kendala lain yang dihadapi di samping masih kurangnya sarana belajar, adalah kurangnya tenaga pengajar.
(KR-FKR)

Hiswana Migas Akan Lakukan Operasi Pasar

CIANJUR (Suara Karya): Ketua Bidang LPG - DPC Hiswana Migas (Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas) Kabupaten Cianjur, Sulistio mengatakan bahwa pihaknya telah membentuk tim monitoring, disamping ada satuan tugas (Satgas) dari PT Pertamina terkait kelangkaan bahan bakar gas (BBG) bersubsidi tabung seberat 3kg.

"Tim monitoring ini, sebetulnya sudah ada, namun kerjanya sekarang ini ditingkatkan dengan melakukan evaluasi ke lapangan untuk melakukan langkah-langkah yang akan diambil," katanya.

Dikemukakan, langkah-langkah atau upaya yang akan diambil di antaranya akan melakukan operasi pasar. Operasi pasar ini, dapat dilakukan atas dasar permintaan dari pihak desa atau kelurahan yang diketahui oleh camat setempat tentang kebutuhan BBG yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Ketika menjawab pertanyaan tentang harga BBG bersubsidi seberat 3 kg, disebutkan untuk harga eceran tetap (HET) di pangkalan berkisar antara Rp 12.750 s/d Rp 13.650 dengan radius 60 Km dari pusat kota (perkantoran Pemkab Cianjur) yang diatur berdasarkan SK Bupati. Pihak pangkalan tidak diperbolehkan menjual BBG melebih HET.

"Jika pangkalan menjual BBG melebihi HET, merupakan pelanggaran. Sedangkan harga jual BBG di warung-warung, hingga saat ini, belum ada ketetapan yang mengatur HET," katanya.

Seperti diketahui, sebagian warga masyarakat Kabupaten Cianjur, sejak dua pekan ini, kesulitan memperoleh BBG bersubsidi tabung seberat 3kg. Sekalipun ada, harga BBG di warung-warung melambung tinggi mencapai Rp 14.000 hingga Rp 16.000. Sedangkan sebelum terjadi kelangkaan harga BBG ukuran seberat 3 kg berkisar antara Rp 13.000 s/d Rp 13.500.

Sulistio, ketika dikonfirmasi Suara Karya, Selasa (22/5), menyatakan, kejadian ini bukan kelangkaan, tetapi tidak memenuhi kebutuhan. "Sebab masih banyak ibu rumah tangga yang memperoleh gas, namun tidak semua kebutuhan gasnya terpenuhi," kilahnya.

Diakui, untuk bulan Mei 2012 ini, pasokan BBG bersubsidi ukuran 3 kg terjadi pengurangan oleh PT Pertamina, yaitu hanya sebanyak 940.000 tabung/bulan. Sedangkan sebelumnya pasokan BBG bulan Januari s/d April 2012 sebanyak 1 juta s/d 1, 5 juta tabung/bulan.

"Dasar pengurangan pasokan BBG, karena ada daerah baru yang menjadi sasaran pasokan Pertamina, yaitu daerah-daerah di Kalimantan, dan Sumatera. Dengan sendirinya terjadi pengurangan pasokan untuk Jawa, termasuk daerah Cianjur, sehingga terkena imbas pengurangan pasokan," ujarnya. (Man Suparman)

Postingan Lebih Baru Postingan Lama